Senin, 22 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
3

Dua Orang Guru di Cengkareng Tuntut Pesangon dan Kekurangan Upah

Meski menyandang status sebagai Guru, namun bukan berarti harus diperlakukan seperti pahlawan tanpa tanda jasa, yang tidak membutuhkan uang sebagai imbalan.

Keberanian Anastasia Makawimbang dan Maria Linda Damanik dalam memperjuangkan haknya ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai Guru yang dipekerjakan oleh Yayasan Kasih Immanuel, patut diacungkan jempol. Anastasia yang telah bekerja selama dua belas tahun, dan Maria selama empat tahun tidak dapat menerima pengakhiran hubungan kerja secara sepihak, tanpa pembayaran kompensasi apapun.

Keduanya selama bekerja hingga akhirnya diputuskan hubungan kerjanya sejak 2018, tidak pernah menandatangani perjanjian kontrak apapun, dan dibayar upahnya dibawah ketentuan besaran upah minimum yang berlaku. Menurut Kuasa Hukum kedua guru tersebut, Mangontang Silitonga, upaya penyelesaian telah ditempuh, baik secara bipartit maupun di Dinas Tenaga Kerja. Namun tidak mencapai kesepakatan, terangnya, Rabu (20/3) kemarin.

Dalam persidangan yang dipimpin oleh Hakim Muh. Djunaedi dalam Perkara Nomor 367/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Jkt.Pst itu, Anastasia dan Maria menuntut pembayaran uang pesangon dan kekurangan upah sebesar lebih dari Rp.208 juta. Keduanya juga meminta Pengadilan, agar menetapkan asset Yayasan berupa tanah dan bangunan yang berada di Taman Palem Lestari, Cengkareng, diletakkan sita jaminan.

Tak hanya itu, Pengadilan diminta untuk menetapkan pembayaran uang paksa (dwangsom) sebesar Rp.500 ribu perhari kepada keduanya, apabila Yayasan tidak melaksanakan putusan Pengadilan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of