Jumat, 20 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
35

Saksi Buruh Bantah Pernah Diberi Surat Peringatan Oleh Pabrik Naga

Dalam persidangan lanjutan, dua orang saksi yang dihadirkan oleh Sarnah, dkk menolak dalil Pabrik Naga yang telah memberikan Surat Peringatan kepada dirinya sebelum diberhentikan.

Siti Nurbani dan Sri Bulan, keduanya memberikan kesaksian dibawah sumpah dihadapan Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang diketuai oleh Hakim Taryan, Senin (22/4) kemarin. Menurut mereka, Sarnah dan kawan-kawan sebelum diberhentikan secara sepihak oleh PT. Naga Mulia Putra Perkasa tidak pernah diberikan surat peringatan tertulis.

Sehingga, pemberhentian secara sepihak yang dilakukan Pabrik Naga telah tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ketenagakerjaan. “Intinya, pertama, bahwa proses pemberhentian di PT. Naga itu tidak memenuhi undang-undang. Kedua, katanya ada surat peringatan kesatu dan kedua, ternyata tidak pernah diberikan,” ujar Efendi salah satu kuasa hukum Sarnah.

Sebelumnya, pada 31 Januari lalu, Sarnah bersama puluhan temannya mendaftarkan surat gugatan terhadap PT. Naga Mulia Putra Perkasa yang diregister dengan Perkara Nomor 31/Pdt.Sus-PHI/2019/PN.Jkt.Pst, dengan tuntutan uang pesangon sebesar Rp5,1 miliar ke PHI Jakarta Pusat. Mereka kesal, lantaran diberhentikan secara sepihak tanpa pemberian kompensasi uang pesangon oleh Perusahaan garment yang berlokasi di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara tersebut.

Rencananya, persidangan akan kembali digelar Senin pekan depan untuk mendengarkan keterangan saksi ahli yang diajukan oleh PT. Naga Mulia. Efendi menegaskan, bahwa konsekuensi akibat pemutusan hubungan kerja secara sepihak adalah pemberian uang pesangon. “Apabila perusahaan berani mem-PHK, maka secara otomatis dia harus berani juga mengeluarkan hak-haknya karyawan,” ujarnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of