Selasa, 19 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
74

Benarkah Buruh Perempuan Korban Pertama Kapitalisme Global?

Dalam tiga tahun, Indonesia alami peningkatan efisiensi pasar tenaga kerja dari semula peringkat ke-110 menjadi ke-96. Dengan kata lain, situasi ketenagakerjaan di Indonesia makin fleksibel, lalu apa dampaknya bagi Buruh Perempuan?

Setidaknya, hal tersebut yang menjadi alasan bagi Trade Union Right Center (TURC) menggelar diskusi bertajuk “Kapitalisme Global dan Buruh Perempuan”, Senin (29/4) kemarin di Kantor TURC, Pejompongan, Jakarta. Hadir sebagai pembicara, Sumiyati dari Serikat Pekerja Nasional, Thaufiek Zulbahary dari Komisi Nasional Perempuan dan Peneliti dari Australia Sarah Kennedy.

Andriko Otang selaku Direktur TURC dalam sambutan pembukanya menyatakan, buruh perempuan dari tahun ke tahun sejak 2017 adanya penurunan tingkat partisipasi di angkatan kerja formal. “Artinya pekerja perempuan sangat rentan terhadap situasi informalitas yang memiliki sejumlah permasalahan, diantaranya tidak adanya proteksi hukum, sehingga praktis sulit menerapkan situasi kerja yang layak,” tegasnya.

Sarah sebagai pembicara pertama, justru menduga, keberadaan buruh perempuan dalam era industrialisasi sekarang ini dijadikan motor kapitalisme yang dapat dibayar secara murah. “Ada anggapan bahwa perempuan itu dapat dibayar murah dan mereka tidak punya skill, kemudian mempekerjakan mereka dari ruang publik ke dalam rumah,” ujarnya.

Sedangkan menurut Taufiek, mayoritas yang menjadi pekerja migran adalah perempuan untuk dipekerjakan sebagai pekerja rumah tangga. Sebab, kaum perempuan yang mengalami kekerasan tetapi tidak sanggup baginya untuk melaporkan kepada pihak lain. “Selalu ada ketakutan pada dirinya (perempuan), bahwa ia tidak mungkin mendapatkan keadilan karena selalu rentan dengan tindakan balas dendam dan kekerasan,” sambung Sumiyati.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of