Minggu, 22 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
67

Dimutasi, Lima Sopir Indomaret Malah Dianggap Mengundurkan Diri

Pengusaha secara prerogatif diberikan wewenang untuk menempatkan Pekerjanya, asal sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat, minat dan kemampuannya. 

Sidang lanjutan dalam perkara antara Badri Santosa, dkk (5 orang) dengan PT. Indomarco Prismatama selaku Pemilik branding Indomaret, kembali digelar oleh Majelis Hakim yang diketuai M. Djunanidie di ruang sidang Kusuma Atmadja 4 di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Badri Santosa dan keempat rekan kerjanya telah berusaha mengikuti keinginan PT. Indomarco Prismatama, yang memutasikannya dari sopir ke bagian warehouse. Namun bukannya diberi pekerjaan, justru sebaliknya, malah dianggap mengundurkan diri terhitung bulan Desember 2018 lalu. “Kami tegaskan, bahwa Tergugat membuat rekayasa,” kata Indra salah seorang kuasa hukum Pekerja.

Kelimanya dinilai telah tidak masuk bekerja (mangkir), dan Perusahaan dalam dalilnya membuktikan dengan surat panggilan bekerja tanggal 14 dan 17 Desember yang dikirimkan secara bersamaan. “Mereka mengirimkannya (surat penggilan) secara bersama-sama, akibatnya mereka dianggap mangkir dari panggilan,” ujar Adi Setyanto, Rabu (15/05/2019) kemarin.

Indra juga menolak jika Badri dan kawan-kawan dianggap mengundurkan diri, karena syarat mengundurkan diri yang diatur dalam Pasal 168 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, tidak terpenuhi. Sehingga tindakan PT. Indomarco Prismatama yang mengkualifikasikan Badri Santosa dan kawan-kawannya, telah mengundurkan diri adalah tidak sah.

Dalam surat gugatan yang diregister dengan Perkara Nomor 67/Pdt.Sus-PHI/2019/PN.Jkt.Pst itu, Badri menuntut pembayaran uang pesangon dirinya, dan teman-temannya sebagai kompensasi pemutusan hubungan kerja yang dilakukan PT. Indomarco sebesar Rp377 juta lebih. Sidang akan dilanjutkan pada Rabu pekan depan, dengan agenda bukti surat dari pihak Pekerja.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of