Jumat, 22 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
214

Belum Dapat Tunjukkan Bukti Asli, Hakim Tunda Persidangan Hotel Pullman

Jakarta, BuruhOnline.com – Majelis Hakim yang diketuai oleh Hakim M. Djoenanidie, akhirnya menunda sidang hingga pekan depan yang beragendakan pemeriksaan bukti surat dari pihak PT. Wisma Nusantara International Hotel Pullman Jakarta Indonesia. Pasalnya, Perusahaan belum dapat memperlihatkan keaslian dari beberapa bukti surat ke hadapan Majelis Hakim.

Demikian dikatakan Riwanto selaku kuasa hukum Firmansyah, seusai menghadiri persidangan, Rabu (18/9/2019) yang digelar diruang sidang Kusuma Atmadja IV, Gedung Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat itu. Sedangkan dari pihak Firmansyah selaku pekerja sekaligus penggugat, telah lebih dahulu menyampaikan bukti surat yang berjumlah 10 bukti.

“Bukti-bukti asli dari Notaris Pihak Perusahaan, itu yang belum bisa dibuktikan, masih bersifat poto kopi, jadi aslinya belum bisa dibuktikan,” ujar Riwanto. Ia juga mengatakan, bukti surat yang diajukan pihaknya terdiri dari anjuran Suku Dinas Tenaga Kerja, dan akta pendirian serikat pekerja dari notaris.

Selain itu, Riwanto membantah dalil yang disampaikan Hotel Pullman, yang menganggap Firmansyah merupakan pekerja yang diperjanjikan dengan perjanjian kerja kontrak (waktu tertentu). Sebab, pekerja yang telah bekerja sejak Januari 1993 itu, telah mengikatkan dirinya dengan perjanjian kerja pada perusahaan yang sama. “Tapi dalam awal perjanjiannya, klien kita (Firmansyah) sudah mempunyai perjanjian kontrak dengan PT yang sama dari Pullman,” tegas Riwanto.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Firmansyah yang kesehariannya sebagai housekeeping melalui surat gugatan yang diregister dalam Perkara Nomor 183/Pdt.Sus-PHI/2019/PN.Jkt.Pst., meminta PHI Jakarta Pusat, untuk mengadili kasus perselisihan pemutusan hubungan kerjanya dengan PT. Wisma Nusantara International Hotel Pullman Jakarta. Ia meminta masa kerjanya dalam perhitungan besaran uang pensiun, dihitung sejak awal dirinya bekerja pada 11 Januari 1993. Ia menolak keputusan PT. Wisma Nusantara yang hanya menghitung besaran uang pensiun dari saat dirinya diangkat menjadi pekerja tetap.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of