Jumat, 22 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
389

Ahli: Syarat Demosi Harus Adanya Kesalahan Pekerja

Jakarta, BuruhOnline.com – Sidang lanjutan dalam perkara perselisihan pemutusan hubungan kerja, antara Catharine Burhan melawan PT. ECS Indo Jaya, Kamis (17/10/2019) memasuki tahap mendengarkan keterangan saksi/ahli. Dihadapan Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang diketuai oleh Hakim Taryan Setiawan, Catharine menghadirkan seorang ahli yakni Hotma P Sibuea dan seorang saksi fakta Robby Fauzan Abdi Putra.

Dalam keterangan ahlinya, Hotma mengatakan, Perusahaan dapat menurunkan jabatan Pekerja (demosi), apabila syarat adanya kesalahan yang dilakukan Pekerja telah dipenuhi. Ia menegaskan, jika syarat tersebut tidak dipenuhi maka demosi (penurunan jabatan) yang dilakukan oleh Perusahaan, menjadi tidak benar.

“Demosi terjadi harus ada perbuatan atau kesalahan yang dilakukan, baru diturunkan jabatannya,” ujar Hotma, Kamis (17/10/2019) yang masih aktif mengajar di Universitas Pakuan, Bogor itu. Terhadap keterangan Hotma, Aep Saepulloh Esa selaku kuasa hukum Cataharine mengaku yakin dalil permohonannya yang meminta penetapan pemutusan hubungan kerja, dapat dikabulkan pengadilan.

“Makanya relevan dengan (keterangan) ahli, apakah dengan dasar itu (demosi) dapat mengajukan gugatan PHK?,” tutur Esa usai menghadiri persidangan. Menurutnya, praktek selama ini hanya Perusahaan yang dapat menjatuhkan PHK dengan alasan disharmoni. Sebaliknya, Pekerja juga seharusnya memiliki hak untuk meminta PHK dengan kompensasi pesangon, jika kondisi kerja Pekerja dibuat tidak nyaman.

“Karena kebijakan itu-kan (demosi) tentu menimbulkan suatu keadaan yang sangat tidak nyaman, dan tidak dapat diterima oleh Penggugat (pekerja),” jelas Esa. Lebih lanjut ia mengatakan, “Selama ini disharmoni hanya dikenal atas dasar permintaan Perusahaan, tapi ini atas dasar permintaan Pekerja,” tambahnya.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Catharine menggugat PT. ECS Indo Jaya terkait keinginan Perusahaan menempatkan dirinya yang semula General Manajer menjadi Supervisor, dan perbedaan pemberian fasilitas yang membuat dirinya tidak nyaman. Padahal selama bekerja, ia menunjukkan loyalitas, dedikasi dan prestasi dalam membesarkan Perusahaan. Sehingga, ia meminta Majelis Hakim untuk menyatakan putus hubungan kerja dengan disertai pembayaran uang pesangon.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of