Sabtu, 28 Maret 2020 | Saatnya Buruh Cerdas
323

Kompak, Tiga Anak Perusahaan Shinta Group Beri Pesangon Tujuh Puluh Persen

Bandung, BuruhOnline.com – Menyusul pengumuman tutup yang telah dilakukan oleh dua anak Perusahaan Shinta Group, yakni PT. Shinta Budhrani Industries dan PT. Sulindafin Permai Spinning Mills. Kini, PT. Susilia Indah Indah Synthetic Fibers Industries mengumumkan penutupan Perusahaan sejak Oktober 2019 lalu. Dengan rentang penjualan yang pernah mencapai US$50 juta setiap tahunnya itu, Perusahaan yang bergerak dibidang industri grey, knitting dan synthetic sejak tahun 1960-an tersebut, diterpa kondisi keuangan yang semakin memburuk.

Bahkan, untuk membayar uang kompensasi pemutusan hubungan kerja kepada Pekerjanya, PT. Susilia Indah Indah Synthetic Fibers Industries hanya bisa memberikan 70% (tujuh puluh perseratus) dari satu kali ketentuan perundang-undangan. “Karyawan anggota kami, itu di-PHK dengan pesangon tujuh puluh persen dicicil empat kali. Nah dengan keadaan seperti itu, kami jelas menolak,” tutur Ade Riskandar selaku kuasa hukum Masan Sugiarto dan kawan-kawan (113 orang).

Ia mengatakan, pihaknya telah berupaya untuk menyelesaikan melalui pemerantaraan Pegawai Mediator di Dinas Tenaga Kerja. Namun upaya tersebut menemui jalan buntu, dan akhirnya dilanjutkan dengan pengajuan gugatan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Bandung. Dalam surat gugatan yang didaftarkan sejak 27 Februari 2020 lalu itu, Masan menuntut pemberian uang pesangon sebesar dua kali ketentuan undang-undang.

Ditambahkan Ade, alasan Perusahaan tutup yakni karena mengalami kerugian. Tetapi sebaliknya, ia membantah alasan tersebut. “Alasan Perusahaan, Perusahaan mengalami kerugian. Tapi Perusahaan sampai sekarang berjalan seperti biasa,” tandasnya. Sebelumnya, PT. Shinta Budhrani Industries dan PT. Sulindafin Permai Spinning Mills juga hanya menyatakan kesanggupannya membayar uang pesangon sebesar tujuh puluh persen dari satu kali undang-undang.

Sedangkan menurut PT. Susilia Indah Indah Synthetic Fibers Industries melalui kuasa hukumnya, Hery Supriatna mengatakan, pihaknya sudah berupaya maksimal dalam merundingkan maksud penutupan Perusahaan dengan Serikat Pekerja Nasional (SPN). Dalam perundingan tersebut, pihak Serikat Pekerja dapat menerima tindakan penutupan Perusahaan, tetapi terkait dengan besaran kompensasi yang tidak mencapai kesepakatan.

“Proses penutupannya itu, kita sudah melibatkan Serikat (Pekerja) yang ada. Sudah menunjukan alat bukti berupa laporan kerugian keuangan yang di-audit akuntan publik,” ujar Hery seusai menghadiri persidangan yang beragendakan pemeriksaan identitas para pihak dan sekaligus penyerahan jawaban gugatan.

Ditambahkannya, karena kondisi keuangan Perusahaan yang tidak memiliki pendanaan yang cukup, Perusahaan hanya memberikan uang pesangon sebesar 70% dari satu kali ketentuan undang-undang. “Namun karena kondisi Perusahaan ini yang tidak memungkinkan, maka disampaikan juga pada saat perundingan itu penawaran untuk tujuh puluh persen dari satu kali,” terang Hery.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of