Sabtu, 6 Juni 2020 | Saatnya Buruh Cerdas
339

Juru Masak Hotel Tak Tepat Diperjanjikan Kontrak

Jakarta, BuruhOnline.com – Sebagai Perusahaan jasa, jenis pekerjaan yang diterapkan hotel dengan badan usaha manufaktur, tentu berbeda. Hamed selaku kuasa hukum Suhro, menilai kegiatan usaha perhotelan tidak tepat jika menerapkan sistem kerja dengan waktu tertentu (kontrak). “Sepanjang hotel masih beroperasi, pasti akan tetap ada pekerjaan juru masak,” ujarnya usia menghadiri persidangan yang digelar di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (20/4/2020).

Ditambahkan Hamed, jasa yang ditawarkan oleh Perusahaan hotel hanya ada dua, yakni kamar (room) dan makanan. “Jadi pekerjaan yang dilakukan oleh Penggugat dalam Perkara Nomor 73 ini, ini inti dari bisnis hotel tersebut. Harusnya tidak boleh pekerjaan dengan PKWT, harusnya PKWTT,” tandasnya.

Suhro, seperti yang dijelaskan Hamed, merupakan juru masak di Hotel Le Grandeur Jakarta. Awalnya, ia diperjanjikan dengan perjanjian kerja kontrak sebanyak dua kali dalam kurun waktu dua tahun. Setelah masa berlakunya kontrak berakhir, lalu Suhro diikat dengan perjanjian kerja harian lepas selama tiga bulan, dan kemudian dilanjutkan dengan perjanjian kontrak untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu satu tahun.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, menurut Hamed, jenis pekerjaan yang diperjanjikan merupakan pekerjaan yang tidak dapat diperkirakan penyelesaian waktunya. “Artinya, pekerjaan ini, pekerjaan tetap dan terus menerus sepanjang hotel masih berdiri, pasti ada pekerjaan demi-chef,” tambahnya.

Ia juga menegaskan, dengan tidak adanya pembaharuan perjanjian kerja kontrak selama tiga puluh hari, setelah berakhirnya perpanjangan kontrak, maka perjanjiannya tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. “Tapi hanya merubah statusnya dari PKWT menjadi Pekerja harian (lepas),” jelas Hamed.

Atas alasan-alasan itu, Suhro meminta agar dirinya dipekerjakan kembali sebagai Pekerja tetap pada posisi dan jabatan semula terhitung sejak 3 Agustus 2015. Serta menetapkan besaran upah selama tidak dipekerjakan oleh PT. Sinarwisata Lestari selaku pengelola Hotel Le Grandeur Jakarta, sejak bulan September 2018. Permasalahan tersebut, telah diupayakan penyelesainnya melalui Dinas Tenaga Kerja. Akan tetapi, tidak tercapai kesepakatan. Hingga akhirnya Disnaker menganjurkan, agar PT. Sinarwisata Lestari mempekerjakan kembali Suhro.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of