Sabtu, 6 Juni 2020 | Saatnya Buruh Cerdas
523

Kurang Bayar Bonus Produksi, JICT Digugat Pekerja Puluhan Miliar

Jakarta, BuruhOnline.com – PT. Jakarta International Container Terminal (JICT), dianggap telah keliru dalam menerapkan perhitungan biaya produksi tahun 2018. Hal tersebut dikatakan Yuniadi Noorriza selaku kuasa hukum Hazris Maisyah dan kawan-kawan (438 orang). Menurutnya, tindakan JICT yang memasukkan pembayaran sewa lahan (rental-cost) sebesar US$82 juta kepada PT. Pelindo telah bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan.

“Dengan adanya rental-cost ini, sebetulnya akan menggerus (bonus) buruh yang formulasinya 7,08% dari profit inprotect,” ujar Yuniadi, Rabu (22/4/2020). Pembayaran sewa lahan tersebut, lanjut Yuniadi, belumlah dapat diberlakukan pada tahun 2018. Sebab, berdasarkan audit investasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), transaksi yang dilakukan JICT cacat hukum.

“Ini belum layak dijadikan pengeluaran biaya yang seharusnya dikeluarkan dari komponen untuk pembiayaan bonus produksi,” tandas Yuniadi. Pembiayaan rental-cost yang dilakukan JICT sebagai salahsatu komponen biaya produksi tahun 2018, setidaknya telah mengurangi dasar pengali dari formulasi bonus produksi para Pekerja. Sehingga dalam gugatannya, Hazris Maisyah dan kawan-kawan mengajukan upaya hukum melalui mediasi di Dinas Tenaga Kerja.

“Anjuran Disnaker, menurut kami belum masuk kepada materi pokok perkaranya. Karena dia hanya melihat formalitas yang seolah-olah ini adalah perselisihan kepentingan, bukan perselisihan hak,” tambah Yuniadi. Ia menganggap, permasalahan pembayaran kekurangan bonus produksi yang telah diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama, merupakan perselisihan hak karena terkait dengan pelaksanaan.

“Menurut kami ini adalah perselisihan hak. Karena ada hal-hal yang diatur mengenai hak karyawan selaku Pekerja. Sebagai perbedaan dari dari penafsiran perundang-undangan dan pelaksanaan dari PKB itu sendiri,” tegas Yuniadi usai menghadiri persidangan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam surat gugatannya, Hazris dan kawan-kawan menggugat JICT untuk membayar kekurangan bonus produksi tahun 2018 sebesar Rp27,3 miliar.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of