Minggu, 22 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
51

May Day: Buruh Dalam Perbudakan Modern 4.0

Peringatan May Day atau Hari Buruh Sedunia merupakan suatu bentuk seremonial pekerja dalam berjuang menuntut hak kemanusiaannya, terhadap tenaga yang sudah diserahkannya kepada pemilik modal. Rasa menuntut hak yang harus diberikan secara layak dan manusiawi inilah yang dapat kita nilai, bahwa gerakan buruh sebagai gerakan kemanusiaan agar manusia bisa terbebas dari perbudakan atau penghisapan tenaga oleh manusia lainnya. Melihat makna dari peringatan mayday ini kembali terkuak pertanyaan mengenai tugas pokok gerakan buruh di era sekarang, yaitu bagaimana nasib buruh di Revolusi Industri 4.0?

Kaum Buruh adalah kaum yang kehilangan akses kepemilikannya atas alat produksi, sehingga terpaksa menjual tenaganya kepada pemilik modal untuk ditukarkan dengan upah. Karenanya upah dapat disebut sebagai harga dari tenaga kerja. Tenaga kerja dalam sistem kapitalisme disamakan dengan komoditi, yaitu sejumlah kebutuhan (makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain) yang harus dipenuhi oleh seorang buruh untuk melanjutkan hidupnya.

Di era Revolusi Industri 4.0 secara bersamaan lahirlah banyaknya techno-industri, yaitu industri berbasis sistem kerja komputer, yang menyebabkan tenaga buruh semakin tereksploitasi dengan adanya sistem tersebut. Perintah pekerjaan dari perusahaan bukanlah lagi melalui perantara dari Manajer atau HRD, melainkan melalui aplikasi sistem kerja komputer yang dibuat oleh perusahaan. Perusahaan hanya memasukan perintah dalam komputer, buruh cukup menekan tombol persetujuan perintah di smartphone atau komputer yang telah disediakan oleh perusahaan. Sehingga apabila buruh bekerja tidak sesuai target,dari perintah sistem, sistem komputer saat itu dapat secara langsung memberikan perintah suspend atau pemberhentian saat itu juga. Tidak ada lagi yang namanya buruh mendapat ruang perundingan mengajukan pembelaannya. Hilangnya ruang perundingan sudah merupakan bentuk perampasan kemanusiaan secara sepihak, dan dilakukan secara tidak langsung oleh si perusahaan.

Konsep kerja melalui komputerisasi juga membentuk suatu hubungan kerja yang flexible, namun juga menghilangkan nilai kemanusiaan dalam pemberian upahnya. Salah satu hubungan yang terbentuk seperti yang kita lihat sekarang, adalah hubungan mitra kerja tapi cita rasa freelance. Seperti kita ketahui, hubungan freelance lebih menekankan kepada Capaian Target ketimbang Waktu Kerja (dalam hubungan perburuhan). Yang membedakan adalah adanya profit sharing dalam hubungan mitra kerja yang tidak ada dalam hubungan freelance. Konsep profit sharing ini-pun, ukurannya juga bias dan hanya diberikan pada persepektif perusahaan, tidak ada juga ruang perundingan yang dilakukan oleh perusahaan kepada mitra kerjanya dalam menentukan nilai profit sharing yang memenuhi standar nilai kemanusiaan kepada si mitra kerjanya.

Modernisasi sistem kerja dalam Revolusi Industri 4.0 dengan ciri khasnya yang menghilangkan konsep perundingan yang seharusnya wajib dilakukan oleh pemilik modal dengan buruh, menyebabkan semakin mundurnya pemenuhan nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan ketenagakerjaan. Maka, sebenarnya salah apabila perbudakan sudah menghilang dengan semakin canggihnya teknologi, melainkan perbudakan itu sendiri juga ikut mengalami modernisasi yang menghilangkan atau mengalih tanggungjawabkan kemanusiaan yang seharusnya wajib diberikan oleh perusahaan yang memperkerjakan buruh menjadi tanggung jawab sistem komputer. Sehingga Revolusi Industri 4.0 yang sering di gaungkan oleh pemerintah saat ini, secara tidak langsung juga merupakan bentuk penggaungan juga terhadap perbudakan modern, atau bisa kita sebut itu sebagai perbudakan modern 4.0.

 

Oleh: Made Wipra Pratistita (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Eksekutif Wilayah Bali)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of